Komik Pondok
Achil teringat ketika masih nyantri di pondok. Tiap hari kalau ada waktu lowong selalu saja diisi dengan kumpul-kumpul bersama teman-teman, membicarakan hal-hal yang tak berujung pangkal, saling adu argumentasi, layaknya sidang DPR. Kadang memperdebatkan sahih tidaknya suatu hadits, mendiskusikan apa yang barusan dilihat di TV, seperti perpolitikan internasional, atau tentang doti dan santet yang gentayangan, bahkan sampai “cerita botolo’” (baca: cerita fiktif namun lucu) yang selalu mengundang gelak tawa yang menimbulkan suasana akrab.
Pada suatu malam, tepatnya malam Jum’at Kliwon habis Isya, seperti biasanya setelah selesai santap malam jamaah di dapur umum, semua santri ke kamar ganti baju siap menyongsong dan menikmati malam liburan (dipondok pesantren hari Jumat adalah hari libur bukan hari Ahad). Tanpa sengaja terjadi gesekan kecil antara dua orang teman Achil yang kebetulan bersebelahan ranjang.
Ceritanya ketika kopiah si Beddu jatuh, ia meminta tolong kepada Amir sebelah ranjangnya untuk mengambilkannya. Dengan dialek khas Bone ia berkata “Mir! Tolong ambilkan songkotku”, Amir tertawa, dengan sewot dan mimik serius ia mengoreksi “he..he..he.. itu sih bukan songkot namanya, tapi songkop”. Serentak seluruh isi kamar tertawa karena yang mengoreksi justru lebih salah lagi, satu persatu penduduk kamar nimbrung kedalam pembicaraan yang makin ramai, tak ketinggalan pula Achil.
Permasalah demi permasalahan muncul, berpindah ke masalah perwkonomian dunia, perang etnik di Bosnia, tentang rampasa kue kalau ada yang baru datang kirimannya, dan apa saja yang muncul dibatok kepala mereka saat itu. Adu aegumentasi pun makin seru, padahal tidak ada pimpinan sidang, protokol apalagi moderator. Tak terasa waktu berlalu hingga larut malam.
Pada tahap konteks ini, di tengah yang dialami Achil di sana. Ia merasakan bagaimana proses belajar berpolitik. Orang bisa saja merasa sedang melakukan apa yang namanya politik, tetapi di akhir perjalanan, tiba-tiba nampak bahwa dalam banyak hal apa yang telah Achil selenggarakan itu adalah halusinasi. Tak ia peroleh secara jelas apa sebenarnya kualitas politis pekerjaannya. Mungkin ia belum lebih sekedar belajar berpolitik, atau bahkan lebih t erbelakang dari itu, belajar berorganisasi.
Tiba-tiba Achil teringat kakeknya yang sudah keropos. Tiap hari minta diputarkan lagu qasidah ‘Jilbab-jilbab putih’. Sebelum meninggalkan dusun Tampelo untuk masuk Pondok Pesantren ia berpesan. “Cucuku, kalau misalnya kamu berada di tengah-tengah masyarakat berusahalah bersikap manis terhadap mereka, supaya mereka juga bersikap manis terhadapmu. Buatlah hari orang lain manis karenamu, mudah-mudahan yang Maha Manis memberimu kemanisan sebagaimana kemanisan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu. Sebab di zaman globalisasi ini seseorang sangat sulit untuk bermuka manis tanpa politik, dan memang kita sulit hidup tanpa politik”. “Tapi kek, haruskan politik itu kejam? Haruskah ia datang menampar wong cilik?, ataukan memang itu yang sudah digariskan?”. “Saya belum selesai bicara Beleng!, Pueh…” sang kakek menghardik dengan nada tinggi, ia menyemburkan sirih yang sejak tadi dikunyah ke muka Achil, tetapi kemudian nada bicaranya kembali menurun. “Tapi Chil, puncak keberhasilan politikmu ialah kalau kau berhasil membunuh dan memakan saudaramu tanpa ketahuan kalau kau telah melenyapkannya, bagaimana bisa cucuku, satu biji nilai kehidupan bisa steril jadinya dari politik. Tuhan dipolitisi, dan dijual sebagai lembaran-lembaran kartu politik. Eh.. Chil, kira-kira apa yang tergambar dalam layar kaca benakmu ketika mendengar kata-kata politik?, atau imaji apakah yang muncul ketika kemiskinan diseminarkan di hotel berbintang?”
“Kalau begitu dimana lagikah benih kesejahteraan sosial hendak disemaikan?, jalan manalagi yang hendak kita tempuh menuju hari depan?” Membatin Achil, “Tak setitik udara lagi yang terbebas dari hawa politik”, Achil semakin pusing “seluruh lapisan bumi, sampai keraknya bahkan gunung, laut, angkasa, planet-planetpun diperebutkan. Tetapi orang kan butuh makan.” Lalu lintas pikiran Achil semakin semrawut. “Setahu saya politik itu kan diselenggarakan untuk mengorganisir kesejahteraan rakyat… tetapi orang selalu punya alasan untuk pada akhirnya mencetak politik menjadi pergulatan perut. Makanya orang merasa sukar untuk tidak mempelajari ilmu bohong, menipu, manipulasi, membesar-besarkan, mengecil-ngecilkan, mengadakan yang tiada, meniadakan yang ada, membenarkan ketidakbenaran, menidakbenarkan kebenaran, membaikkan yang tidak baik, menidakbaikkan yang baik, menghitamkan yang putih, memutihkan yang hitam, menyatakan yang tidak nyata, menidaknyatakan yang nyata, mengiyakan yang tidak, menidakkan yang iya, dan membalik cakrawala realitas.
“Sampai dimanakah keyakinanku kalau tidak akan menjadi penerus kehidupan semacam itu? Saya dibesarkan oleh politik, makanya saya akan kurang lebih sama”
“HOI!!! CHIL!” Achil kaget setengah wafat diteriaki begitu oleh Oceng, ia baru sadar ternyata ia sejak tadi melamun. “Ada apa Ceng, agh…..” Achil menguak. “itu tuh, tadi siang sepatu Acong disabet payabo (pemulung) yang lagi dijemur di depan laboratorium”, “Oh…. itu.. kalau menurut saya sih agh….. payabo itu tidakbisa disalahkan 100% sebab dia mungkin mencuri karena ada monopoli disana. Itu namanya kepepet, yang tidak kepepet saja korupsi”. Oceng terperangah.
Tiba-tiba Achil mencium bau kentut. Sangat keterlaluan, susahnya karena semua yang kumpul waktu itu tidak ada yang mau mengaku kalau ia yang kentut, sampai akhirnya disimpulkan bahwa yang kentut adalah hantu. Mendadak di dinding muncul seonggok kepala dan dua tangan yang membentuk seperti hendak mencakar tetapi tangan itu menghadap ke atas, “Kanda-kandalaka’ kalau saya yang kentut”.
Ujungpandang, 4 Agustus 1994
Popularity: 12% [?]
Dimana Titik Koordinat Manusia?

Galaksi Bimasakti
Semua orang yang pernah mengecap pendidikan formal di bangku sekolah, minimal SMP pasti pernah mempelajari ilmu bumi atau geografi. Di sana kita akan melihat bahwa bumi beserta delapan planet lainnya bergerak secara teratur mengelilingi matahari tanpa pernah jam karet.
Awalnya manusia menyangka bahwa matahari adalah pusat tata surya dan dianggap sebagai benda angkasa terbesar. Tetapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, belakangan diketahui bahwa matahari kita hanyalah sebuah bintang kecil dibanding dengan bintang-bintang lainnya. Contohnya bintang Antares yang besarnya 480x matahari.
Matahari kita yang mungil ini beserta berjuta-juta bintang raksasa lainnya bersatu membentuk Galaksi Bimasakti yang berbentuk seperti cakram yang lebar dari satu tepi ke tepi lainnya sejauh 100.000 tahun cahaya. Jika kita menghitungnya secara matematik ternyata sangat jauh (untuk ukuran kita). Seperti yang kita ketahui bahwa kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik. Satu tahun berarti 365 hari x 24 jam dalam sehari x 60 menit x 60 detik = 31.536.000 detik dalam setahunnya. Kemudian dikalikan dengan 100.000 tahun dikalikan 300.000 km kecepatan cahaya. Tentu kita sendiri akan bingung.

Galaksi Magellan
Dalam gugusan Galaksi Bimasakti lagi-lagi matahari memperlihatkan kekerdilannya, karena ternyata ia hanya terletak di emperan Bimasakti. Menurut ahli astronomi, selain Bimasakti, terdapat lagi beribu-ribu Galaksi lainnya, dan galaksi terdekat dengan Bimasakti adalah Galaksi Magellan. Jarak antara keduanya berkisar 150.000 tahun cahaya.
Sampai di sini kita akan berpikir, bumi kita ini kan jauh lebih kecil dibanding matahari, dan dalam gugusan Bimasakti, matahari justru menjadi super kerdil. Kemudian galaksi lain ada beribu-ribu jumlahnya. Lalu bagaimanakah luasnya ruang yang ditempati galaksi-galaksi itu? Kalau kita mengambar Bimasakti sebesar papan tulis di kelas, maka terlalu besar kalau kita menggambarkan matahari sebagai sebuah titik dengan kapur tulis. Lalu bagaimana kalau kita ibaratkan papan tulis itu sebagai ruang jagad raya yang menampung beribu-ribu galaksi? Maka tiap-tiap galaksi itu besarnya hanya seperti biji kelereng, lalu dimanakah Bimasakti? Dimana letak matahari kita? Dimana posisi bumi? Lalu dimana titik koordinat manusia pada sumbu x,y,z alam raya ini? Dan bagaimana kita bisa menggambar wujud manusia? Betapa super kerdil makhluk yang namanya manusia!
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ternyata itu semua merupakan “pekerjaan tangang” Allah. Betapa besar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Dan betapa mungil manusia yang masih selalu sombong, takabbur dan bangga dengan dirinya.
Ujungpandang, 11 Agustus 1994
Popularity: 14% [?]
Komik Metropolitan
Suatu malam minggu di bulan purnama, Achil dan temannya mampir di pantai losari untuk menikmati malam panjang setelah dari toko buku. Dengan sepiring nasi goreng dan juice alfukat, ngobrol, merenungi malam.
Malam hari memang merupakan anugrah sekaligus menandakan kebesaran Tuhan. Pada malam hari hamba-hamba yang shaleh sujud, memaknai hidup, memikirkan kebesaran-Nya.
Tapi lain yang dilihat Achil dan temannya di sana. Disekitarnya orang-orang malah bergibah, tentang korupsi pak anu, tentang sogokan pak itu, tentang gilanya dunia atau mungkin menikmati khayalan tubuh mulus seorang wanita.
Dan memang pada malam itu beberapa wanita muda berkeliaran. Riuh bersama beberapa teman laki-laki. Pakaian atas dibuat rendah, bagian bawah dibuat tinggi, sepatu tumit tinggi, kretek putih di sela-sela bibir bergincu, gaya yang dibuat-buat, air mukanya menawarkan petualangan.
Siapakan mereka? Apa yang mereka lakukan malam-malam begini dengan beberapa laki-laki itu? Apakah mereka akan melanjutkan di tempat lain? sampai dimanakan puncak keakraban mereka? Diranjang? Malam ini dengan ini, besok dengan itu, lusanya dengan x, y, dan z? Berapa puluhkan atau berapa ratuskah laki-laki petualang? Inikan modernisasi? Beginikan kehidupan metropolitan?
Astagfirullah, itu pikiran-pikiran kotor, tapi bagaimana menjelaskan kehidupan anak muda seperti itu? Siapakah orang tua mereka? Apa yang mereka pikirkan malam ini? Apakah mereka tidak tahu kalau anaknya tidak dirumah? Ataukah memang tidak punya perhatian untuk itu? Dan apakah mereka tidak khawatir dengan masa depan dan keadaan anaknya? Bagaimana rasanya menjadi orang tua seperti itu?
Naudzubillahi min dzalik
“aku ngeri” gumam Achil hampir berbisik.
“kenapa?” respon temannya yang heran mendengar Achil bicara sendiri sementara pandangannya kosong lurus ke depan.
“adikku perempuan”
Temannya masih belum mengerti
“tak bisa kubayangkan kalau adikku hidup di metropolitan seperti ini kemudian suatu malam kutemukan ia dalam keadaan seperti ini”
Temannya hanya diam.
Di kota seperti ini yang namanya pelacuran memang sudah terang-terangan, bahkan jaringan prostitusi tersembunyi yang kadang pelayannya adalah –maaf-maaf saja – mahasiswi, siswi SMA dan SMP.
Di perguruan tinggi maupun di sekolah-sekolah memang tidak memasang syarat, bahwa untuk menjadi sarjana apakah ia kumpul kebo atau tidak,untuk naik kelas tidak harus masih perawan-perjaka atau tidak.
Maka soal-soal moralitas betul-betul bergantung kepada lingkungan keluarga di rumah karena yang namanya nilai budaya, nilai etika, lingkungan, sangatlah relatif. Ia bisa saja membolehkan apa yang dulu dianggap tidak boleh. Tapi ini tidak berarti orang tua harus menjadi pengembala. Pemain layanan harus tahu kapan menarik benang dan kapan mengulurnya. Betapa pentingnya pendidikan rohani dan akhlak semasa kanak-kanak. Dan hanya dien yang tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai itu. Orang tua harus memberi peluang kepada mereka untuk kreatif. Bukan karena takut anak-anaknya terkena radiasi kultur yang aneh-aneh atau menjadi pemberontak, malah mengkungkung jiwanya. Anak bukanlah benda yang bisa dijadikan alat dari kemauan orang tua, tetapi anak merupakan permata titipan yang dianugrahkan Allah, amanah Allah kepada hambanya karena diangap sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Berikan anak kehidupan di luar rumah agar ia belajar dewasa dan matang. Tapi jangan memberi akan kehidupan luar rumah yang tidak sanggup kita pertanggung jawabkan.
Jangan sampai pribadi mereka pecah berserakan, karena mereka lahir sebagai keutuhan, perlahan-lahan kemudian sejarah dan orang tua-lah yang membuatnya berkepin-keping, pecah berserakan, pribadi berkeping-keping. Mari kita mengutuhkan kembali kepingan-kepingan pribadi yang pecah berserakan dari watak murninya sebagai manusia khalifatan fil ardhi. Manusia adalah menjadi bayi yang dewasa. Utuh sebagai bayi dan dewasa dalam mengikuti bayang-bayang Tuhan. Cintailah mereka dengan cara mempersiakan jadi manusia yang pantas menghadap Tuhannya.
Sebagai penghormatan, mari kita mancium kepribadian orang yang pribadinya tetap utuh dalam kebayiannya. Maka betapa mulya dan berat tugas orang tua.
“oh!” tiba-tiba Achil merasa punggungnya basah, ternyata terciprat gelombang pasangnya air laut.
“pukul berapa sekarang?”
“setengah dua belas Chil!”
Buru-buru Achil menghabiskan juicenya. Sambil minum Achil membathin, “kok bisa-bisanya saya berpikiran kayak orang tua, padahal sayakan masih perjaka apalagi punya anak”. Achil senyum-senyum saja. Mereka membayar kemudian berlalu pulang. Di rumah Achil menulis surat amat panjang buat adiknya.
Ujungpandang, Selasa, 19 Juli 1994
Popularity: 5% [?]
