komik pondok

renungan

Komik Pondok

December 30, 2009 by Faisal Akib · Beri Komentar
Kategori: Renungan Masa Kecilku 

santri-pondokAchil teringat ketika masih nyantri di pondok. Tiap hari kalau ada waktu lowong selalu saja diisi dengan kumpul-kumpul bersama teman-teman, membicarakan hal-hal yang tak berujung pangkal, saling adu argumentasi, layaknya sidang DPR. Kadang memperdebatkan sahih tidaknya suatu hadits, mendiskusikan apa yang barusan dilihat di TV, seperti perpolitikan internasional, atau tentang doti dan santet yang gentayangan, bahkan sampai “cerita botolo’” (baca: cerita fiktif namun lucu) yang selalu mengundang gelak tawa yang menimbulkan suasana akrab.

Pada suatu malam, tepatnya malam Jum’at Kliwon habis Isya, seperti biasanya setelah selesai santap malam jamaah di dapur umum, semua santri ke kamar ganti baju siap menyongsong dan menikmati malam liburan (dipondok pesantren hari Jumat adalah hari libur bukan hari Ahad). Tanpa sengaja terjadi gesekan kecil antara dua orang teman Achil yang kebetulan bersebelahan ranjang.

Ceritanya ketika kopiah si Beddu jatuh, ia meminta tolong kepada Amir sebelah ranjangnya untuk mengambilkannya. Dengan dialek khas Bone ia berkata “Mir! Tolong ambilkan songkotku”, Amir tertawa, dengan sewot  dan mimik serius ia mengoreksi “he..he..he.. itu sih bukan songkot namanya, tapi songkop”. Serentak seluruh isi kamar tertawa karena yang mengoreksi justru lebih salah lagi, satu persatu penduduk kamar nimbrung kedalam pembicaraan yang makin ramai, tak ketinggalan pula Achil.

Permasalah demi permasalahan muncul, berpindah ke masalah perwkonomian dunia, perang etnik di Bosnia, tentang rampasa kue kalau ada yang baru datang kirimannya, dan apa saja yang muncul dibatok kepala mereka saat itu. Adu aegumentasi pun makin seru, padahal tidak ada pimpinan sidang, protokol apalagi moderator. Tak terasa waktu berlalu hingga larut malam.

Pada tahap konteks ini, di tengah yang dialami Achil di sana. Ia merasakan bagaimana proses belajar berpolitik. Orang bisa saja merasa sedang melakukan apa yang namanya politik, tetapi di akhir perjalanan, tiba-tiba nampak bahwa dalam banyak hal apa yang telah Achil selenggarakan itu adalah halusinasi. Tak ia peroleh secara jelas apa sebenarnya kualitas politis pekerjaannya. Mungkin ia belum lebih sekedar belajar berpolitik, atau bahkan lebih t erbelakang dari itu, belajar berorganisasi.

Tiba-tiba Achil teringat kakeknya yang sudah keropos. Tiap hari minta diputarkan lagu qasidah ‘Jilbab-jilbab putih’. Sebelum meninggalkan dusun Tampelo untuk masuk Pondok Pesantren ia berpesan. “Cucuku, kalau misalnya kamu berada di tengah-tengah masyarakat berusahalah bersikap manis terhadap mereka, supaya mereka juga bersikap manis terhadapmu. Buatlah hari orang lain manis karenamu, mudah-mudahan yang Maha Manis memberimu kemanisan sebagaimana kemanisan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu. Sebab di zaman globalisasi ini seseorang sangat sulit untuk bermuka manis tanpa politik, dan memang kita sulit hidup tanpa politik”. “Tapi kek, haruskan politik itu kejam? Haruskah ia datang menampar wong cilik?, ataukan memang itu yang sudah digariskan?”. “Saya belum selesai bicara Beleng!, Pueh…” sang kakek menghardik dengan nada tinggi, ia menyemburkan sirih yang sejak tadi dikunyah ke muka Achil, tetapi kemudian nada bicaranya kembali menurun. “Tapi Chil, puncak keberhasilan politikmu ialah kalau kau berhasil membunuh dan memakan saudaramu tanpa ketahuan kalau kau telah melenyapkannya, bagaimana bisa cucuku, satu biji nilai kehidupan bisa steril jadinya dari politik. Tuhan dipolitisi, dan dijual sebagai lembaran-lembaran kartu politik. Eh.. Chil, kira-kira apa yang tergambar dalam layar kaca benakmu ketika mendengar kata-kata politik?, atau imaji apakah yang muncul ketika kemiskinan diseminarkan di hotel berbintang?”

“Kalau begitu dimana lagikah benih kesejahteraan sosial hendak disemaikan?, jalan manalagi yang hendak kita tempuh menuju hari depan?” Membatin Achil, “Tak setitik udara lagi yang terbebas dari hawa politik”, Achil semakin pusing “seluruh lapisan bumi, sampai keraknya bahkan gunung, laut, angkasa, planet-planetpun diperebutkan. Tetapi orang kan butuh makan.” Lalu lintas pikiran Achil semakin semrawut. “Setahu saya politik itu kan diselenggarakan untuk mengorganisir kesejahteraan rakyat… tetapi orang selalu punya alasan untuk pada akhirnya mencetak politik menjadi pergulatan perut. Makanya orang merasa sukar untuk tidak mempelajari ilmu bohong, menipu, manipulasi, membesar-besarkan, mengecil-ngecilkan, mengadakan yang tiada, meniadakan yang ada, membenarkan ketidakbenaran, menidakbenarkan kebenaran, membaikkan yang tidak baik, menidakbaikkan yang baik, menghitamkan yang putih, memutihkan yang hitam, menyatakan yang tidak nyata, menidaknyatakan yang nyata, mengiyakan yang tidak, menidakkan yang iya, dan membalik cakrawala realitas.

“Sampai dimanakah keyakinanku kalau tidak akan menjadi penerus kehidupan semacam itu? Saya dibesarkan oleh politik, makanya saya akan kurang lebih sama”

“HOI!!! CHIL!” Achil kaget setengah wafat diteriaki begitu oleh Oceng, ia baru sadar ternyata ia sejak tadi melamun. “Ada apa Ceng, agh…..” Achil menguak. “itu tuh, tadi siang sepatu Acong disabet payabo (pemulung) yang lagi dijemur di depan laboratorium”, “Oh…. itu.. kalau menurut saya sih agh….. payabo itu tidakbisa disalahkan 100% sebab dia mungkin mencuri karena ada monopoli disana. Itu namanya kepepet, yang tidak kepepet saja korupsi”. Oceng terperangah.

Tiba-tiba Achil mencium bau kentut. Sangat keterlaluan, susahnya karena semua yang kumpul waktu itu tidak ada yang mau mengaku kalau ia yang kentut, sampai akhirnya disimpulkan bahwa yang kentut adalah hantu. Mendadak di dinding muncul seonggok kepala dan dua tangan yang membentuk seperti hendak mencakar tetapi tangan itu menghadap ke atas, “Kanda-kandalaka’ kalau saya yang kentut”.

Ujungpandang, 4 Agustus 1994

Popularity: 12% [?]

Berikan Komentar Anda

Sampaikan kepada kami apa yang anda pikirkan...
Jika ingin ada gambar ditampilkan dalam komentar anda, dapatkan di gravatar!


253 spam comments
blocked by
Akismet