Berapa Besar Investasi (Pendidikan) Untuk Jadi Sarjana?

January 3, 2010 by Faisal Akib · Beri Komentar
Kategori: Varia Pendidikan 
Investasi Pendidikan Sarjana

Investasi Pendidikan Sarjana

“Pendidikan adalah investasi jangka panjang”. Itu ungkapan yang sering kita dengar. Berapa besarkan investasi pendidikan sarjana, atau berapa yang yang harus diinvestasikan untuk menjadi sarjana?

Suatu hari saya masuk di kelas untuk mengajar mahasiswa saya, mahasiswa baru. Seperti biasa di pertemuan pertama hanya ada kontrak belajar dan beberapa cerita untuk mengantar para mahasiswa baru ini memasuki wilayah pendidikan orang dewasa. Di antara yang saya sampaikan adalah mengajak mereka untuk menghitung secara finansial berapa yang harus dikeluarkan hingga mendapat gelar sarjana khususnya di Jurusan Teknik Informatika UIN Alauddin Makassar. Mengapa secara finansial? umumnya orang eksakta mudah memahami sesuatu jika di-angka-kan, padahal investasi pendidikan kurang tepat untuk dihitung-hitung. Apalagi dalam agama sendiri menekankan bahwa belajar itu adalah wajib hukumnya, jadi ilustrasi dibawah ini bukan mengajak mahasiswa untuk berpikir materialistis tetapi semata-mata untuk menunjukkan betapa besarnya investasi yang mereka harus tanamkan untuk menjadi seorang sarjana.

Mula-mula mahasiswa saya ajak untuk mengidentifikasi apa saja yang harus dibiayai selama kuliah. Diasumsikan bahwa kuliah rata-rata untuk Jurusan Teknik Informatika adalan 5 tahun (10 semester). Berikut item-item yang akan dibiayai tersebut:

No. Item Pembiayaan Keterangan
1. Pendaftaran Sekali
2. Pra akademik Sekali
3. BPP Setiap semester
4. Praktikum komputer Setiap semester
5. Praktikum ibadah Dua semester
6. Program PIKIH Dua semester
7. Konsumsi Setiap hari
8. Akomodasi Setiap tahun
9. Transportasi Setiap hari
10. Sandang (dari ujung rambut-ujung kaki) Setiap tahun
11. Buku text dan ATK Setiap semester
12. Fotocopy Setiap semester
13. Komunikasi Setiap bulan
14. Pembelian komputer Sekali
15. Koneksi internet Setiap bulan
16. Lain-Lain Setiap bulan

Mari kita analisa satu persatu dengan asumsi kuliah dijalani selama 5 tahun (10 semester)

Pendaftaran, biaya ini dikeluarkan sekali berkaitan biaya administrasi saat pertama kali mendaftar, mulai pengambilan sampai pengembalian formulir.

  • Rp. 150.000,-

Pra-Akademik, biaya ini dikeluarkan sekali saat mendaftar ulang setelah dinyatakan lulus ujian seleksi

  • Rp. 200.000,-

BPP (Biaya Penyelenggaraan Pendidikan), biaya ini akan dikeluarkan setiap semester yang besarannya adalah Rp. 800.000,- persemester sehingga menjadi

  • Rp. 800.000,- x 10 semester = Rp.8.000.000,-

Praktikum Komputer, biaya ini juga dikeluarkan setiap semester dengan besaran

  • Rp. 500.000,- x 10 semester = Rp. 5.000.000,-

Praktikum Ibadah, biaya ini hanya dikeluarkan selama dua semester pertama.

  • Rp. 200.000, x 2 semester = Rp. 400.000,-

Program PIKIH (Pencerahan Imani dan Keterampilan Hidup), biaya ini juga dikeluarkan hanya untuk dua semester pertama.

  • Rp. 175.000,- x 2 semester = Rp. 350.000,-

Konsumsi, sama halnya akomodasi meski kita makannya sama orang tua di rumah, dalam hitungan bisnis tetap aja juga harus dihitung.

  • Rp. 15.000,- perhari x 365 hari x 5 tahun = Rp. 27.375.000,-

Akomodasi, biaya ini adalah biaya yang dikeluarkan untuk sewa kost selama lima tahun. Bagaimana dengan yang tinggal dengan orang tua? Kan gak perlu ngeluarin sewa kost!. Saat kuliah kita menganggap semua yang kita keluarkan dan fasilitas yang kita gunakan dianggap sebagai investasi layaknya ketika kita mau buka usaha retail. Meski ruko adalah milik sendiri, tetapi tetap aja harus diperhiungkan susut dari ruko itu atau ruko itu dihitung sebagai tempat yang disewa (untuk masalah yang kayak gini bagusnya tanya ama orang ekonomi, pasti tau betul itung-itungan bisnis). Baiklah, rata-rata sewa kost yang dinyatakan sendiri oleh mahasiswa saat ini adalah,

  • Rp. 1.500.000,- x 5 tahun = 7.500.000,0

Transportasi, biaya ini merupakan ongkos angkot dari rumah/kost ke kampus. Bagaimana jika menggunakan motor? Kurang lebih sama hasilnya, kita lihat analisanya, rata-rata mahasiswa kuliah 6 hari dalam seminggu, ongkos PP rumah/kost-kampus rata-rata Rp.15.000,-. Dalam satu semester rata-rata mahasiswa kuliah 16 kali pertemuan.

  • Rp. 15.000,- x 6 hari seminggu x 16 minggu x 10 semester = Rp. 14.400.000,-

Sandang, menurut pengakuan mahasiswa minimal mereka belanja untuk keperluan pakaian dari ujung rambut s.d. ujung kaki sekitar satu sampai dua kali setahun dengan anggaran sekitar Rp. 1.000.000,- pertahun.

  • Rp. 1.000.000,- x 5 tahun = Rp. 5.000.000,-

Buku-buku, yang masuk dalam kategori ini adalah mulai dari buku text hingga buku dan alat tulis-menulis atau ATK (alat tulis kantor) lainnya.

  • Rp. 750.000,- x 10 semester = Rp. 7.500.000,-

Fotocopy, biasanya fotocopy ini biasanya dari tugas-tugas atau bahan kuliah yang diberikan oleh dosen untuk digandakan hingga tugas akhir skripsi, untuk mudahnya kita ambil rata-ratanya atau mungkin minimal.

  • Rp. 150.000,- x 12 bulan x 5 tahun = 9.000.000,-

Komunikasi, komunikasi disini adalah rata-rata biaya komunikasi perbulan (pulsa)

  • Rp. 50.000,- x 12 bulan x 5 tahun = 3.000.000,-

Pembelian Komputer, sangat ganjil rasanya jika ada seorang montir tidak punya kunci inggris, atau tukang service elektronik yang tidak punya solder dan obeng. Begitu juga calon sarjana komputer yang gak punya komputer.

  • Rp. 5.000.000,-
Investasi Pendidikan

Investasi Pendidikan

Koneksi Internet, prilaku mahasiswa untuk mendapatkan koneksi internet berbeda-beda, ada yang memilih ke warnet, warkop (meski gratis hotspotnya tapi minimalkan harus beli kopi secangkir), atau membeli modem sendiri untuk koneksi via telepon rumah atau GSM/CDMA.

  • Rp. 100.000,- x 12 bulan x 5 tahun = Rp. 6.000.000,-

Biaya Lain-Lain, ini merupakan biaya yang biasa dikeluarkan tanpa perencanaan, misalnya: ada film bagus tuh di studio, nonton yuk…., ke mall yuk cuci mata!, atau sekedar nongkrong di pantai losari, de el el.

  • Rp. 50.000,- x 12 bulan x 5 tahun = Rp. 3.000.000,-

Berikut ringkasannya:

No. Item Pembiayaan Jumlah
1. Pendaftaran Rp     150.000
2. Pra akademik Rp     200.000
3. BPP Rp  8.000.000
4. Praktikum komputer Rp  5.000.000
5. Praktikum ibadah Rp     400.000
6. Program PIKIH Rp     350.000
7. Konsumsi Rp27.375.000
8. Akomodasi Rp  7.500.000
9. Transportasi Rp14.400.000
10. Sandang (dari ujung rambut-ujung kaki) Rp  5.000.000
11. Buku text dan ATK Rp  7.500.000
12. Fotocopy Rp  9.000.000
13. Komunikasi Rp  3.000.000
14. Pembelian komputer Rp  5.000.000
15. Koneksi internet Rp  6.000.000
16. Lain-Lain Rp  3.000.000
Total Rp  101.875.000

Nah loh loh, kok banyak baget ya?… weleh-weleh.. ternyata untuk jadi sarjana mahal juga ya…!?

Tapi sekali lagi angka-angka ini hanya merupakan perkiraan, disetiap daerah mungkin berbeda. Anda bisa menghitung sendiri sesuai keadaan anda saat menjalani investasi pendidikan ini.

Popularity: 24% [?]

Komik Pondok

December 30, 2009 by Faisal Akib · Beri Komentar
Kategori: Renungan Masa Kecilku 

santri-pondokAchil teringat ketika masih nyantri di pondok. Tiap hari kalau ada waktu lowong selalu saja diisi dengan kumpul-kumpul bersama teman-teman, membicarakan hal-hal yang tak berujung pangkal, saling adu argumentasi, layaknya sidang DPR. Kadang memperdebatkan sahih tidaknya suatu hadits, mendiskusikan apa yang barusan dilihat di TV, seperti perpolitikan internasional, atau tentang doti dan santet yang gentayangan, bahkan sampai “cerita botolo’” (baca: cerita fiktif namun lucu) yang selalu mengundang gelak tawa yang menimbulkan suasana akrab.

Pada suatu malam, tepatnya malam Jum’at Kliwon habis Isya, seperti biasanya setelah selesai santap malam jamaah di dapur umum, semua santri ke kamar ganti baju siap menyongsong dan menikmati malam liburan (dipondok pesantren hari Jumat adalah hari libur bukan hari Ahad). Tanpa sengaja terjadi gesekan kecil antara dua orang teman Achil yang kebetulan bersebelahan ranjang.

Ceritanya ketika kopiah si Beddu jatuh, ia meminta tolong kepada Amir sebelah ranjangnya untuk mengambilkannya. Dengan dialek khas Bone ia berkata “Mir! Tolong ambilkan songkotku”, Amir tertawa, dengan sewot  dan mimik serius ia mengoreksi “he..he..he.. itu sih bukan songkot namanya, tapi songkop”. Serentak seluruh isi kamar tertawa karena yang mengoreksi justru lebih salah lagi, satu persatu penduduk kamar nimbrung kedalam pembicaraan yang makin ramai, tak ketinggalan pula Achil.

Permasalah demi permasalahan muncul, berpindah ke masalah perwkonomian dunia, perang etnik di Bosnia, tentang rampasa kue kalau ada yang baru datang kirimannya, dan apa saja yang muncul dibatok kepala mereka saat itu. Adu aegumentasi pun makin seru, padahal tidak ada pimpinan sidang, protokol apalagi moderator. Tak terasa waktu berlalu hingga larut malam.

Pada tahap konteks ini, di tengah yang dialami Achil di sana. Ia merasakan bagaimana proses belajar berpolitik. Orang bisa saja merasa sedang melakukan apa yang namanya politik, tetapi di akhir perjalanan, tiba-tiba nampak bahwa dalam banyak hal apa yang telah Achil selenggarakan itu adalah halusinasi. Tak ia peroleh secara jelas apa sebenarnya kualitas politis pekerjaannya. Mungkin ia belum lebih sekedar belajar berpolitik, atau bahkan lebih t erbelakang dari itu, belajar berorganisasi.

Tiba-tiba Achil teringat kakeknya yang sudah keropos. Tiap hari minta diputarkan lagu qasidah ‘Jilbab-jilbab putih’. Sebelum meninggalkan dusun Tampelo untuk masuk Pondok Pesantren ia berpesan. “Cucuku, kalau misalnya kamu berada di tengah-tengah masyarakat berusahalah bersikap manis terhadap mereka, supaya mereka juga bersikap manis terhadapmu. Buatlah hari orang lain manis karenamu, mudah-mudahan yang Maha Manis memberimu kemanisan sebagaimana kemanisan yang diberikan kepada orang-orang terdahulu. Sebab di zaman globalisasi ini seseorang sangat sulit untuk bermuka manis tanpa politik, dan memang kita sulit hidup tanpa politik”. “Tapi kek, haruskan politik itu kejam? Haruskah ia datang menampar wong cilik?, ataukan memang itu yang sudah digariskan?”. “Saya belum selesai bicara Beleng!, Pueh…” sang kakek menghardik dengan nada tinggi, ia menyemburkan sirih yang sejak tadi dikunyah ke muka Achil, tetapi kemudian nada bicaranya kembali menurun. “Tapi Chil, puncak keberhasilan politikmu ialah kalau kau berhasil membunuh dan memakan saudaramu tanpa ketahuan kalau kau telah melenyapkannya, bagaimana bisa cucuku, satu biji nilai kehidupan bisa steril jadinya dari politik. Tuhan dipolitisi, dan dijual sebagai lembaran-lembaran kartu politik. Eh.. Chil, kira-kira apa yang tergambar dalam layar kaca benakmu ketika mendengar kata-kata politik?, atau imaji apakah yang muncul ketika kemiskinan diseminarkan di hotel berbintang?”

“Kalau begitu dimana lagikah benih kesejahteraan sosial hendak disemaikan?, jalan manalagi yang hendak kita tempuh menuju hari depan?” Membatin Achil, “Tak setitik udara lagi yang terbebas dari hawa politik”, Achil semakin pusing “seluruh lapisan bumi, sampai keraknya bahkan gunung, laut, angkasa, planet-planetpun diperebutkan. Tetapi orang kan butuh makan.” Lalu lintas pikiran Achil semakin semrawut. “Setahu saya politik itu kan diselenggarakan untuk mengorganisir kesejahteraan rakyat… tetapi orang selalu punya alasan untuk pada akhirnya mencetak politik menjadi pergulatan perut. Makanya orang merasa sukar untuk tidak mempelajari ilmu bohong, menipu, manipulasi, membesar-besarkan, mengecil-ngecilkan, mengadakan yang tiada, meniadakan yang ada, membenarkan ketidakbenaran, menidakbenarkan kebenaran, membaikkan yang tidak baik, menidakbaikkan yang baik, menghitamkan yang putih, memutihkan yang hitam, menyatakan yang tidak nyata, menidaknyatakan yang nyata, mengiyakan yang tidak, menidakkan yang iya, dan membalik cakrawala realitas.

“Sampai dimanakah keyakinanku kalau tidak akan menjadi penerus kehidupan semacam itu? Saya dibesarkan oleh politik, makanya saya akan kurang lebih sama”

“HOI!!! CHIL!” Achil kaget setengah wafat diteriaki begitu oleh Oceng, ia baru sadar ternyata ia sejak tadi melamun. “Ada apa Ceng, agh…..” Achil menguak. “itu tuh, tadi siang sepatu Acong disabet payabo (pemulung) yang lagi dijemur di depan laboratorium”, “Oh…. itu.. kalau menurut saya sih agh….. payabo itu tidakbisa disalahkan 100% sebab dia mungkin mencuri karena ada monopoli disana. Itu namanya kepepet, yang tidak kepepet saja korupsi”. Oceng terperangah.

Tiba-tiba Achil mencium bau kentut. Sangat keterlaluan, susahnya karena semua yang kumpul waktu itu tidak ada yang mau mengaku kalau ia yang kentut, sampai akhirnya disimpulkan bahwa yang kentut adalah hantu. Mendadak di dinding muncul seonggok kepala dan dua tangan yang membentuk seperti hendak mencakar tetapi tangan itu menghadap ke atas, “Kanda-kandalaka’ kalau saya yang kentut”.

Ujungpandang, 4 Agustus 1994

Popularity: 13% [?]

Dimana Titik Koordinat Manusia?

December 30, 2009 by Faisal Akib · 3 Comments
Kategori: Renungan Masa Kecilku 
Galaksi Bimasakti

Galaksi Bimasakti

Semua orang yang pernah mengecap pendidikan formal di bangku sekolah, minimal SMP pasti pernah mempelajari ilmu bumi atau geografi. Di sana kita akan melihat bahwa bumi beserta delapan planet lainnya bergerak secara teratur mengelilingi matahari tanpa pernah jam karet.

Awalnya manusia menyangka bahwa matahari adalah pusat tata surya dan dianggap sebagai benda angkasa terbesar. Tetapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, belakangan diketahui bahwa matahari kita hanyalah sebuah bintang kecil dibanding dengan bintang-bintang lainnya. Contohnya bintang Antares yang besarnya 480x matahari.

Matahari kita yang mungil ini beserta berjuta-juta bintang raksasa lainnya bersatu membentuk Galaksi Bimasakti yang berbentuk seperti cakram yang lebar dari satu tepi ke tepi lainnya sejauh 100.000 tahun cahaya. Jika kita menghitungnya secara matematik ternyata sangat jauh (untuk ukuran kita). Seperti yang kita ketahui bahwa kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik. Satu tahun berarti 365 hari x 24 jam dalam sehari x 60 menit x 60 detik = 31.536.000 detik dalam setahunnya. Kemudian dikalikan dengan 100.000 tahun dikalikan 300.000 km kecepatan cahaya. Tentu kita sendiri akan bingung.

Galaksi Magellan

Galaksi Magellan

Dalam gugusan Galaksi Bimasakti lagi-lagi matahari memperlihatkan kekerdilannya, karena ternyata ia hanya terletak di emperan Bimasakti. Menurut ahli astronomi, selain Bimasakti, terdapat lagi beribu-ribu Galaksi lainnya, dan galaksi terdekat dengan Bimasakti adalah Galaksi Magellan. Jarak antara keduanya berkisar 150.000 tahun cahaya.

Sampai di sini kita akan berpikir, bumi kita ini kan jauh lebih kecil dibanding matahari, dan dalam gugusan Bimasakti, matahari justru menjadi super kerdil. Kemudian galaksi lain ada beribu-ribu jumlahnya. Lalu bagaimanakah luasnya ruang yang ditempati galaksi-galaksi itu? Kalau kita mengambar Bimasakti sebesar papan tulis di kelas, maka terlalu besar kalau kita menggambarkan matahari sebagai sebuah titik dengan kapur tulis. Lalu bagaimana kalau kita ibaratkan papan tulis itu sebagai ruang jagad raya yang menampung beribu-ribu galaksi? Maka tiap-tiap galaksi itu besarnya hanya seperti biji kelereng, lalu dimanakah Bimasakti? Dimana letak matahari kita? Dimana posisi bumi? Lalu dimana titik koordinat manusia pada sumbu x,y,z alam raya ini? Dan bagaimana kita bisa menggambar wujud manusia? Betapa super kerdil makhluk yang namanya manusia!

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, ternyata itu semua merupakan “pekerjaan tangang” Allah. Betapa besar Allah yang menciptakan segala sesuatu. Dan betapa mungil manusia yang masih selalu sombong, takabbur dan bangga dengan dirinya.

Ujungpandang, 11 Agustus 1994

Popularity: 19% [?]

« Previous PageNext Page »

332 spam comments
blocked by
Akismet