Komik Metropolitan

December 16, 2009 by Faisal Akib · 4 Comments
Filed under: Renungan Masa Kecilku 

komik_metropolitanSuatu malam minggu di bulan purnama, Achil dan temannya mampir di pantai losari untuk menikmati malam panjang setelah dari toko buku. Dengan sepiring nasi goreng dan juice alfukat, ngobrol, merenungi malam.

Malam hari memang merupakan anugrah sekaligus menandakan kebesaran Tuhan. Pada malam hari hamba-hamba yang shaleh sujud, memaknai hidup, memikirkan kebesaran-Nya.

Tapi lain yang dilihat Achil dan temannya di sana. Disekitarnya orang-orang malah bergibah, tentang korupsi pak anu, tentang sogokan pak itu, tentang gilanya dunia atau mungkin menikmati khayalan tubuh mulus seorang wanita.

Dan memang pada malam itu beberapa wanita muda berkeliaran. Riuh bersama beberapa teman laki-laki. Pakaian atas dibuat rendah, bagian bawah dibuat tinggi, sepatu tumit tinggi, kretek putih di sela-sela bibir bergincu, gaya yang dibuat-buat, air mukanya menawarkan petualangan.

Siapakan mereka? Apa yang mereka lakukan malam-malam begini dengan beberapa laki-laki itu? Apakah mereka akan melanjutkan di tempat lain? sampai dimanakan puncak keakraban mereka? Diranjang? Malam ini dengan ini, besok dengan itu, lusanya dengan x, y, dan z? Berapa puluhkan atau berapa ratuskah laki-laki petualang? Inikan modernisasi? Beginikan kehidupan metropolitan?

Astagfirullah, itu pikiran-pikiran kotor, tapi bagaimana menjelaskan kehidupan anak muda seperti itu? Siapakah orang tua mereka? Apa yang mereka pikirkan malam ini? Apakah mereka tidak tahu kalau anaknya tidak dirumah? Ataukah memang tidak punya perhatian untuk itu? Dan apakah mereka tidak khawatir dengan masa depan dan keadaan anaknya? Bagaimana rasanya menjadi orang tua seperti itu?

Naudzubillahi min dzalik

“aku ngeri” gumam Achil hampir berbisik.

“kenapa?” respon temannya yang heran mendengar Achil bicara sendiri sementara pandangannya kosong lurus ke depan.

“adikku perempuan”

Temannya masih belum mengerti

“tak bisa kubayangkan kalau adikku hidup di metropolitan seperti ini kemudian suatu malam kutemukan ia dalam keadaan seperti ini”

Temannya hanya diam.

Di kota seperti ini yang namanya pelacuran memang sudah terang-terangan, bahkan jaringan prostitusi tersembunyi yang kadang pelayannya adalah –maaf-maaf saja – mahasiswi, siswi SMA dan SMP.

Di perguruan tinggi maupun di sekolah-sekolah memang tidak memasang syarat, bahwa untuk menjadi sarjana apakah ia kumpul kebo atau tidak,untuk naik kelas tidak harus masih perawan-perjaka atau tidak.

Maka soal-soal moralitas betul-betul bergantung kepada lingkungan keluarga di rumah karena yang namanya nilai budaya, nilai etika, lingkungan, sangatlah relatif. Ia bisa saja membolehkan apa yang dulu dianggap tidak boleh. Tapi ini tidak berarti orang tua harus menjadi pengembala. Pemain layanan harus tahu kapan menarik benang dan kapan mengulurnya. Betapa pentingnya pendidikan rohani dan akhlak semasa kanak-kanak. Dan hanya dien yang tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai itu. Orang tua harus memberi peluang kepada mereka untuk kreatif. Bukan karena takut anak-anaknya terkena radiasi kultur yang aneh-aneh atau menjadi pemberontak, malah mengkungkung jiwanya. Anak bukanlah benda yang bisa dijadikan alat dari kemauan orang tua, tetapi anak merupakan permata titipan yang dianugrahkan Allah, amanah Allah kepada hambanya karena diangap sanggup bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Berikan anak kehidupan di luar rumah agar ia belajar dewasa dan matang. Tapi jangan memberi akan kehidupan luar rumah yang tidak sanggup kita pertanggung jawabkan.

Jangan sampai pribadi mereka pecah berserakan, karena mereka lahir sebagai keutuhan, perlahan-lahan kemudian sejarah dan orang tua-lah yang membuatnya berkepin-keping, pecah berserakan, pribadi berkeping-keping. Mari kita mengutuhkan kembali kepingan-kepingan pribadi yang pecah berserakan dari watak murninya sebagai manusia khalifatan fil ardhi. Manusia adalah menjadi bayi yang dewasa. Utuh sebagai bayi dan dewasa dalam mengikuti bayang-bayang Tuhan. Cintailah mereka dengan cara mempersiakan jadi manusia yang pantas menghadap Tuhannya.

Sebagai penghormatan, mari kita mancium kepribadian orang yang pribadinya tetap utuh dalam kebayiannya. Maka betapa mulya dan berat tugas orang tua.

“oh!” tiba-tiba Achil merasa punggungnya basah, ternyata terciprat gelombang pasangnya air laut.

“pukul berapa sekarang?”

“setengah dua belas Chil!”

Buru-buru Achil menghabiskan juicenya. Sambil minum Achil membathin, “kok bisa-bisanya saya berpikiran kayak orang tua, padahal sayakan masih perjaka apalagi punya anak”. Achil senyum-senyum saja. Mereka membayar kemudian berlalu pulang. Di rumah Achil menulis surat amat panjang buat adiknya.

Ujungpandang, Selasa, 19 Juli 1994

Popularity: 6% [?]

332 spam comments
blocked by
Akismet